WhatsApp Image 2026-08-12 at 22.00.57

Konflik agraria berkepanjangan di Kecamatan Anak Tuha kembali memanas. Pembakaran fasilitas PT BSA menjadi puncak kemarahan warga yang mengklaim memiliki riwayat penguasaan dan pengelolaan lahan secara turun-temurun.

LAMPUNG TENGAH.bangkitnusantara.com.  — Konflik agraria yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah, kembali memanas. Situasi di kawasan perkebunan PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Dusun Sriwaya, Kampung Aji Tuha, Rabu (12/8/2026), berubah menjadi mencekam setelah sejumlah fasilitas perusahaan dibakar massa.

Pembakaran terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Sejumlah bangunan yang disebut menjadi fasilitas operasional perusahaan dilaporkan hangus dilalap api, termasuk mess karyawan dan gudang.

Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, aksi tersebut bermula ketika sekelompok warga mendatangi area perusahaan dan meminta para pekerja serta karyawan PT BSA meninggalkan lokasi. Tidak lama setelah terjadi pengusiran, api mulai membesar dan menyambar sejumlah bangunan.

Hampir seluruh fasilitas fisik perusahaan disebut terdampak dalam peristiwa tersebut. Salah satu sumber di lokasi mengatakan, bangunan yang masih berdiri dan tidak terbakar adalah masjid yang berada di kawasan perusahaan.

“Aset yang terbakar meliputi mess karyawan, bangunan gudang, serta fasilitas operasional lainnya. Bangunan yang tersisa di area tersebut hanya masjid,” ujar sumber di lokasi.

Sejumlah video amatir yang beredar memperlihatkan massa berada di sekitar lokasi dengan kondisi penuh ketegangan. Dalam rekaman tersebut, terdengar teriakan massa yang menunjukkan kemarahan terhadap keberadaan perusahaan.

“Hancurkan!” teriak sejumlah massa dalam video yang beredar. Sebagian warga yang terlihat dalam rekaman mengenakan topi dan penutup wajah.

Di tengah situasi yang memanas, aparat kepolisian bersama personel TNI dan unsur gabungan lainnya telah berada di lokasi. Hingga sore hari, aparat masih melakukan pengamanan dan berjaga untuk mencegah meluasnya kericuhan.

Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan konflik pengelolaan lahan yang telah berlangsung lama antara masyarakat dan perusahaan perkebunan. Warga disebut mempersoalkan penguasaan lahan yang mereka klaim telah dikelola secara turun-temurun jauh sebelum perusahaan hadir di wilayah tersebut.

Konflik pengelolaan lahan tersebut mencakup wilayah Desa Negara Aji Tua, Negara Aji Baru, dan Bumi Aji, Kecamatan Anak Tuha. Berdasarkan keterangan yang beredar di tengah masyarakat, lahan di kawasan tersebut telah dikelola warga sejak masa kolonial dengan berbagai tanaman perkebunan seperti lada, kopi, dan durian.

Sejak sekitar 1972, sejumlah perusahaan disebut silih berganti menguasai kawasan tersebut. Nama PT Pagolam, PT Chandra Bumi Kota, hingga PT Bumi Sentosa Abadi disebut dalam riwayat konflik pengelolaan lahan tersebut. Namun, berbagai klaim mengenai penguasaan dan proses peralihan lahan tersebut masih menjadi persoalan yang membutuhkan pembuktian serta penjelasan dari seluruh pihak terkait.

Ketegangan disebut kembali memuncak pada September 2023 ketika terjadi penggusuran lahan yang digarap masyarakat. Warga menyebut saat itu terdapat pengerahan aparat dalam jumlah besar dan penggunaan alat berat. Bentrokan serta penangkapan warga juga disebut terjadi. Hingga kini, persoalan tersebut belum sepenuhnya mereda dan kembali mencuat setelah terjadinya pembakaran fasilitas PT BSA.

Peristiwa pembakaran ini menjadi sinyal serius bahwa konflik agraria di Anak Tuha membutuhkan penanganan menyeluruh dan dialog antara masyarakat, perusahaan, serta pemerintah. Aparat diharapkan dapat menjaga keamanan sekaligus memastikan setiap dugaan pelanggaran hukum dalam peristiwa tersebut ditangani secara objektif, sementara akar persoalan status dan pengelolaan lahan perlu diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku. (Red/Asp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Best view on Mobile Browser | ChromeNews by AF themes.